Dua Tahun Rendra Berpulang

Dua Tahun Rendra Berpulang. Sumber: http://aineblume.wordpress.com/2011/08/27/kangen-ws-rendra/

 

Puluhan, mungkin ratusan orang dari berbagai latar belakang datang memadati pendopo dan halaman Pusat Studi Karta Pustaka di Jalan Bintaran Tengah no. 1 untuk menghadiri acara Dua Tahun Rendra Berpulang.

Lagu-lagu dari Kantata Takwa (band yang pernah digawangi W.S. Rendra bersama Iwan Fals, Setiawan Jodhi, Sawung Jabo, dan Jockie Surjoprajogo) seperi Kesaksian, Paman Doblang, dan Rajawali menjadi sajian penyambut bagi para tamu sebelum acara dimulai. Visualisasi berupa foto-foto Rendra juga turut menjadi bagian dari penyambutan tamu pada malam itu.

Acara yang bertemakan Maskumambang (mengutip puisi Rendra yang berjudul sama) ini dimulai pukul 20.30, mundur 30 menit dari jadwal acara yang seharusnya dimulai pukul 20.00.

Acara dimulai dengan sambutan dari Andi Winarni, Direktur Karta Pustaka. Dalam sambutannya Andi menyatakan kebanggannya pada Rendra sebagai sastrawan karena Rendra merupakan satu dari sedikit sastrawan yang diakui dunia.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, Untung Basuki. Orang yang pernah menjadi murid Rendra ini merasa bahwa, ketimbang karyanya, sosok Rendra lebih dikenal masyarakat. Acara pada malam hari itu dimaksudkan untuk membuat karya Rendra lebih dikenal oleh masyarakat luas.

DS Priyadi  kemudian melanjutkan sambutan dengan memaparkan tema malam itu serta membacakan puisi ciptaan Rendra yang berjudul sama dengan tema acara: Maskumambang.

Setelah sambutan tersebut, acara dilanjutkan dengan penampilan Rasamaya, sebuah grup musik etnik yang berasal dari Kota Solo. Dalam pertunjukannya, Rasamaya memainkan empat komposisi musik yang masing-masing berjudul: Di Atas Mimpi, Sluku-Sluku Bathok, Gambang Suling, dan Pari.

Setelahnya, ada pembacaan puisi Rendra yang berjudul Doa untuk Anak Cucu oleh Herman Aga. Penampilan dari Untung Basuki bersama komunitas Sanggar Bambu mengisi acara selanjutnya. Dalam penampilannya, Untung Basuki bersama beberapa teman lamanya yang pernah berproses bersama bersama Rendra, yaitu Lisong, Supono P.R., Kodok Heru Sukodok dan Dodi Percil menyanyikan dua lagu dalam aransemen akustik: Maju Perang dan Bunga-bunga.

Sesi pembacaan puisi pun dimulai setelahnya. Ada pembacaan puisi cinta berjudul Puisi Matematika dan Pertemuan Malam oleh seorang kerabat Rendra yang berasal dari Magelang, Haris Kerto Raharjo. Hari Leo melanjutkan dengan membacakan puisi Rendra yang berjudul Rick Dari Corona. Mantan istri Rendra yang ke-2, Sitoresmi Prabuningrat turut hadir dalam acara itu.  Sitoresmi membacakan tiga puisi Rendra yang berjudul: Tahanan, Doa Seorang Prajurit Sebelum Berperang, dan Gugur.

Selanjutnya, Bapak Bakti Sumanto, seseorang yang pernah menjadi murid teater Rendra memberikan testimoni sehubungan dengan Rendra. Menurutnya, Rendra bukanlah sosok penyair yang waton banter (asal bicara lantang), melainkan penyair yang lebih mementingkan tersampaikannya konsep dalam puisinya kepada masyarakat,.

Raudal Tanjung Banua, seorang sastrawan dari Komunitas Rumah Lebah Yogyakarta yang pernah dekat dengan Rendra pada masa akhir hidup Rendra juga memberikan testimoninya tentang Rendra.

Setelah testimoni itu, sebuah pertunjukan musik etnik dari Pusat Kesenian Balemong Ungaran turut menyemarakkan acara dengan perpaduan musik etnik dan gerak atraktif dari Daryanto Bended yang membacakan sajak-sajak tentang kehiduan pedesaan.

Buyung Mentari, seorang seniman /aktor yang pernah belajar teater pada Rendra ikut serta membacakan puisi karyanya malam itu sebelum Kepal SPI. Kepal SPI (Serikat Pengamen Indonesia) juga turut menjadi bagian dari acara ini. Mereka membawakan lagu-lagu dari album mereka yang bertema sosial dan sarat kritik pada pemerintah/penguasa. Penampilan Kepal SPI juga menjadi lebih variatif  ketika mereka berkolaborasi dengan Daryanto Bended dari Pusat Kesenian Balemong dalam lagu berjudul Maling. Dalam kolaborasi itu, Bended Daryanto membacakan syair ciptaannya yang dikombinasikan dalam lagu “Maling” tersebut.

Seorang budayawan sekaligus seniman, M.H Ainun Najib hadir di penutupan acara ini. M.H. Ainun Nadjib atau yang lebih dikenal dengan panggilan Cak Nun, dipanggil ke panggung  untuk memberikan testimoninya tentang W.S. Rendra. Namun karena mungkin waktu sudah menunjukkan jam 12 malam dan sepertinya pihak Karta Pustaka membatasi waktu tampil Cak Nun,  Hal ini diungkapkan Cak Nun dalam sambutan awalnya. Cak Nun malah lebih banyak memaparkan usulan konsep acara Peringatan W.S. Rendra  tahun depan dan bukan testimoni tentang Rendra. Cak Nun mengusulkan, ada baiknya jika acara peringatan W.S. Rendra dibagi menjadi empat bagian dalam dua hari dua malam, yaitu:  Rendra Intelektual, Rendra Estetik Artistik, Rendra Progresif dan juga Rendra Spiritual, sehingga semua aspek Rendra dapat dipahami lebih luas dan mendalam oleh masyarakat. Selain itu, Cak Nun juga memaparkan keprihatinannya pada kondisi Negara Indonesia saat ini. Cak Nun mengakhiri ‘testimoninya’ dengan memimpin doa bersama semua hadirin di tempat itu. Tepat pukul 00.30 dini hari,  acara selesai.

 

Iklan