Ini Hari Kamis dan Saya Bangun Lebih Pagi

Pagi bagi saya adalah pukul enam, karena pukul tujuh sudah masuk sekolah.

Beberapa hari ini saya mengalami tidur pendek, hanya 3-4 jam. Sebelumnya saya tidur wajar delapan jam, kebiasana buruk memang utnuk ukuran umum. Saya tidak bisa menjelaskan kenapa saya mengalami ini, hanya bisa mereka-reka.

Saya membayangkan ada perubahan struktur kimia dalam tubuh saya. Perubahan ini membawa dampak pada susunan atom pada sel-sel tubuh sehingga tubuh seperti mengalami pembaharuan dengan proses sakit pada fisik luar tubuh yang kemudian mengakibatkan saya tidak bisa menempuh delapan jam masa tidur.

Perubahan ini bukan karena asupan makanan yang saya berikan kepada tubuh saya, lebih kepada energy yang tidak saya gunakan dengan optimal. Akhir-akhir ini saya jarang berpikir dalam, lebih banyak menyimak dan melakukan hal-hal teknis. Kelebihan energi inilah yang kemudian meneyababkan atom pada sel-sel tubuh saya menggunakannya untuk memperbaiki diri.

Rekaan ini saya sadari berasal dari fantasi saya atas dunia dalam tubuh. Waktu kecil saya sering sekali membayangkan tubuh saya mengecil sukuran semut dan kambing nenek saya memakan saya, lalu saya bisa jalan-jalan mulai dari tenggorokannya kemudian menjelajahi organ dalamnya dan keluar lagi bersama kotorannya dan tentu ditambah sedikit pengetahuan biologi saat SMP.

Ah sudahlah, yang jelas saya sekarang bangun lebih pagi dan ini lebih baik menurut ibu saya.

 

Iklan

Spirit of Kartini

Seni rupa bukan hanya seni yang berindah-indah dengan rupa, ia harus mampu berkomunikasi dengan rupa dan membangun masyarakatnya”.

 

Perempuan jawa beremansipasi sejak kartini, perempuan Indonesia beremansipasi sejak 17 agustus 1945. Emansipasi adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk mendapatkan persamaan hak politik maupun persamaan derajat yang oleh kartini semangat ini dimanifestasikan dalam laku hidupnya. Kartini sebagai perempuan jawa, sebagai istri, sebagai ibu dan sebagai pendidik perempuan. Semua laku hidup kartini adalah manifestasi emansipasi khas Indonesia.

 

Sebagai perempuan jawa kartini berbakti kepada orang tuanya. Ia berlaku sebagai anak yang menghormati dan sayang kepada orang tuanya. Sebagai istri kartini mengabdi kepada suaminya,mendampinginya baik susah maupun senang. Sebagai ibu kartini mendidik dan menyayangi putra putrinya dengan harapan masa depan. Sebagai pendidik kartini mengajar kaum sebangsanya untuk lebih mengerti, paham akan situasi dan kondisi bangsanya. Sebagai perempuan Indonesia kartini sadar akan kodrat illahiah perempuan.

Emansipasi kartini adalah mata rantai nilai adat budaya dan modernitas. Perempuan jawa adalah sangkan paraning dumadi dan laku hidupnya harus hamemayu hayuning bawono.Tata titi tentrem dalam manifestasi emansipasi kartini bukanlah perjuangan gender. Selamanya laki-laki tidak bisa jadi perempuan dan perempuan tidak bias jadi laki-laki. Perjuangan hak politik dan kesetaraan kartini adalah mata rantai, sambung menyambung menjadi simpul, Rantai yang tidak mengikat.

 

Rantai yang tidak mengikat  itu sebagai penguat daya hidup perempuan kartini. Rantai yang membuat simpul batas kodrat illahi. Simpul yang kokoh dan tidak mereduksi nilai-nilai dari kehidupan perempuan.

Emansipasi kartini adalah rantai yang sambung menyambung menjadi simpul nilai berwujud “gaun” sebagai penutup “tabu” tubuh perempuan.

 

Catatan:

Sangkan paraning dumadi : Tempat asal muasal

Hamemayu hayuning bawono : memperindah jagad raya

Tat titi tentrem : tata hati-hati tentram

Percakapan yang tidak selesai

Setelah hampir dua tahun saya tidak membuka blog ini, secara tidak sengaja, malam ini saya masuk wordpress dengan akun yang salah dan ternyata masih aktif. maka sudah kehendak google saya membuka lagi surel menakargaram.

Saya lahir dan besar di Rembang, kabupaten kecil yang berbatasan langsung dengan kota Tuban. Tumbuh di daerah peisisir, laut bagi saya adalah ibu kedua. Hampir setiap hari saya akrab dengan ombak, berenang, nelayan dan ikan.

Setelah menamatkan SMA saya hijrah ke Yogyakarta untuk kuliah di UGM, tetapi Yogyakarta lebih menarik dibanding UGM. Setelah delapan tahun kuliah saya berakhir dengan kekalahan o untuk UGM dan 1 Untuk Yogyakarta.

Percakapan ini terjadi ketika saya hendak meninggalkan rumah, berangkat menuju Yogyakarta. Bapak saya memberi uang saku sebesar lima juta rupiah yang rencananya akan saya belikan komputer lipat karena kebetulan saya dibebsakan dari bea masuk UGM. Uang itu kemudian benar-benar saya belikan komputer lipat, jadilah saya mengenal internet dan segala hal berkait paut dunia tulis menulis. Saat itu bapak saya berkata, “jadilah apapun yang kau mau”.

Malam ini percakapan itu berulang, tetapi tidak antara saya dan bapak saya. saya melakukan percakapan imajiner dengan diri saya sendiri, di dalam kamar saya yang sepi dan Yogyakarta yang bertambah ramai. Dengan disaksikan cicak dan beberapa ikan di akuarium, maka jadilah saya malam ini seseorang yang menghikmati kesunyian, mencari-cari jalan, dan tidak tau kapan akan sampai ketujuan.