Mbah Sareman

Alkisah pada pagi hari setiap seminggu, mbah sareman selalu pergi ke alas kajar untuk mencari kayu bakar dan pulang pada siang harinya. Mbah sareman selalu menempuh perjalanan yang kira-kira berjarak 20 kilometer ini dengan berjalan kaki, bukan karena tidak ada tumpangan tapi inilah bentuk laku. Perjalanan 20 kilometer ini adalah perjalanan batin, bertemu dan menyapa banyak orang dengan banyak keadaan. Setelah merasa cukup mengumpulkan kayu bakar mbah sareman berniat hendak pulang. Kayu dipikul kaki dilangkahkan.Seperti biasanya dalam perjalanan pulang mbah sareman terus saja menyapa banyak orang, karena saking banyak orang yang mengenalnya.

Desa soditan terletak di peisir pantai utara jawa, udara terik dan panas menyengat membentuk manusia soditan berperawakan keras. Meski begitu orang-orang disini membumikan gotong royong, tolong menolong,tepo seliro. Orang-orang tak kenal rasa curiga, siapa datang dengan baik maka ia disambut dengan gembira.

Hari ini pun tidak beda dengan hari-hari yang lain, udara terik dan panas menyengat. Mbah sareman sudah setengah perjalanan, keringatnya bercucuran. Beliau beristirahat di pohon asam besar pinggir jalan tepat di depan toko HIU milik china juragan Ciu. Juragan pemilik toko HIU ini adalah juragan ciu terbesar di pesisir utara, distribusi ciu dari semarang sampai tuban ia kuasai, produknya pun terkenal kualitas terbaik bahkan pemabuk semacam wak basri dibuat kelimbungan dengan hanya meminum satu mangkok ciunya.

Pernah suatu hari juragan china ini membuat mabuk kusir kadipaten yang terkenal alim, ia menipu kusir itu dengan memberikan ciu yang dibilang air. Memang ciu produk Toko HIU ini kualitas nomor satu, bau pun tidak malah terasa seperti air segar. Kusir itu pun mabuk dibuatnya, andok yang dikendarainya nyongsop di pasar kulon menabraki segala yang ada dan mebuat para pedagang geram dan gegerlah seisi pasar. Juragan ini memang suka usil dengan orang jawa Islam “sampai mana wong jowo gak gelem ngombe ciuku, tak jajale penggedene” ujarnya suatu hari di warung kopi depan klenteng Mak Cho”

Siang terus berjalan tanpa ampun, mbah sareman masih duduk beristirahat dibawah pohon asam tepat depan Toko HIU. Dalam hati Juragan ini ingin menipu mbah sareman, seperti yang ia lakukan kepada kusir kadipaten dulu.

‘siang mbah, dari alas siang-siang begini haiya”

“enggeh gan, dari cari kayu bakar buat masak”

“ haiya, mampir dulu ke tempat saya minum dulu biar segar”

“mboten gan, matur nuwun”

“haiya, loe orang ini ada air minum dulu lumayan biar gak kering tenggorokan”

Diminumlah bumbung dari juragan china itu, seteguk demi seteguk tampak nikmat sekali. Tiba-tiba juragan china itu tertawa keras seakan menang dari perang “ bwahahahaha haiya orang-orang jawa bodo-bodo, dikasih ciu diminum saja katanya haram-haram”.  Mbah sareman berhenti minum dan menyerahkan bumbung itu kepada juragan china. “ terima kasih airnya segar sekali, saya akan melanjutkan perjalanan hari sudah sore” ucap mbah sareman dengan tenang. “ bwahahaha air loe orang bilang, itu ciu goblok” sahut juragan china dengan bangga. “ tidak juragan ini air segar, kalo ini chiu pasti sudah saya tau dari baunya”. Mbah sareman tidak peduli, beliau berjalan saja pulang. Sore tepat di titik penghabisannya, hari telah selesai dan malam dihidupi dengan lolongan anjing kampung.

 

Subuh muput orang sekecamatan lasem geger, dari yang tua sampai yang muda dari yang jawa sampai china semua lari terburu menuju alun-alun depan masjid. “Juragan HIU bangkrut juragan HIU bangkrut” teriak orang-orang. Yang lain juga berteriak “ pabrik ciunya bangkrut, semua ciu di gudang semarang dan juwana berubah jadi air, dia bangkrut dia bangkrut”. Benar memang, semua ciu di pabrik dan gudang juragan china itu berubah jadi air malam harinya, bergalon jumlahnya tidak terhitung. Ia masuk islam dan bersumpah tidak akan meminum ciu, apalagi memproduksinya.

 

Mentari melangkah menempuh harinya, mbah sareman nampak di ladang sebelah gubuknya, ndangir ketela yang sudah banyak rumputnya. Tidak ada apa-apa, hari-hari berjalan seperti biasa.