ALIRAN-ALIRAN SASTRA

Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan prinsip (pandangan hidup, politik, dll) yang dianut sastrawan dalam menghasilkan karya sastra. Dengan kata lain, aliran sangat erat hubungannya dengan sikap/jiwa pengarang dan objek yang dikemukakan dalam karangannya.

 
Pada prinsipnya, aliran karya sastra dibedakan menjadi 2 bagian besar, yakni (a) idealisme, dan (b) materialisme.
Idealisme adalah aliran romantik yang bertolak dari cita-cita yang dianut oleh penulisnya. Menurut aliran ini, segala sesuatu yang terlihat di alam ini hanyalah merupakan bayangan dari bayangan abadi yang tidak terduga oleh pikiran manusia. Aliran idealisme ini dapat dibagi menjadi (a) romantisme, (b) simbolik, (c) mistisisme, (d) surealisme

Romantisme adalah aliran karya sastra yang sangat mengutamakan perasaan, sehingga objek yang dikemukakan tidak lagi asli, tetapi telah bertambah dengan unsur perasaan si pengarang. Aliran ini dicirikan oleh minat pada alam dan cara hidup yang sederhana, minat pada pemandangan alam, perhatian pada kepercayaan asli, penekanan pada kespontanan dalam pikiran, tindakan, serta pengungkapan pikiran. Orang-orang aliran ini menganggap imajinasi lebih penting daripada aturan formal dan fakta. Aliran ini kadang-kadang berpadu dengan aliran idealisme dan realisme sehingga timbul aliran romantik idealis, dan romantik realisme.

Romantik idealis adalah aliran kesusastraan yang mengutamakan perasaan yang melambung tinggi ke dalam fantasi dan cita-cita. Hasil sastra Angk. Pujangga Baru umumnya termasuk aliran ini. Sedangkan romantik realisme adalah alira kesusastraan yang mengutamakan perasaan bertolak darikenyataan (contoh: puisi-puisi Chairil Anwar dan Asrul Sani)

Simbolik. Aliran ini muncul sebagai reaksi atas realisme dan naturalisme. Pengarang berupaya menampilkan pengalaman batin secara simbolik. Dunia yang secara indrawi dapat kita cerap menunjukkan suatu dunia rohani yang tersembunyi di belakang dunia indrawi. Aliran ini selalu menggunakan symbol atau perlambang hewan atau tumbuhan sebagai pelaku dalam cerita. Contoh karya sastra yang beraliran ini misalnya Tinjaulah Dunia Sana, Dengarlah Keluhan Pohon Mangga karya Maria Amin, Kisah Negara Kambing (Alex Leo)

Mistisisme adalah aliran kesusastraan yang bersifat melukiskan hubungan manusia dengan Tuhan. Mistisisme selalu memaparkan keharuan dan kekaguman si penulis terhadap keagungan Maha Pencipta. Contoh karya sastra yang beraliran ini adalah sebagaian besar karya Amir Hamzah, Bahrum Rangkuti, dan JE Tatengkeng.

Surealisme adalah aliran karya sastra yang melukiskan berbagai objek dan tanggapan secara serentak. Karya sastra bercorak surealis umumnya susah dipahami karena gaya pengucapannya yang melompat-lompat dan kadang terasa agak kacau. Menurut sejarahnya, aliran ini lahir karena gerakan pembaharuan dalam dunia seni dan berkembang di Prancis (alam bawah sadar seharusnya digali dan dimanfaatkanà ungkapan batin yang irasional seperti mimpi, intuisi, asosiasi bebas perlu dipelihara dengan berpedoman pada psiko-analisa ala Freud. Surealis ingin membebaskan manusia dari belenggu kebudayaan dan intelektualitas) Contoh karya sastra aliran ini misalnya Radio Masyarakat (Rosihan Anwar), Merahnya Merah (Iwan Simatupang), Tumbang (TrisnoSumardjo).

Materialisme berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang bersifat kenyataan dapat diselidiki dengan akal manusia. Dalam kesusastraan, aliran ini dapat dibedakan atas realisme dan naturalisme.

Realisme adalah aliran karya sastra yang berusaha menggambarkan/memaparkan/ menceritakan sesuatu sebagaimana kenyataannya/adanya. Aliran ini umumnya lebih objektif memandang segala sesuatu (tanpa mengikutsertakan perasaan). Sebagaimana kita tahu, Plato dalam teori mimetik-nya pernah menyatakan bahwa sastra adalah tiruan kenyataan/realitas. Berangkat dari inilah kemudian berkembang aliran-aliran seperti: naturalisme dan determinisme.

Realisme sosialis adalah aliran karya sastra secara realis yang digunakan pengarang untuk mencapai cita-cita perjuangan sosialisme

Naturalisme adalah aliran karya sastra yang ingin menggambarkan realitas secara jujur bahkan cenderung berlebihan dan terkesan jorok. Aliran ini berkembang dari realisme. Ada tiga faham yang berkembang dari aliran realisme (1) scientisme (hanya sains yang dapat menghasilkan pengetahuan yang benar), (2) positivisme ( menolak metafisika, hanyalewa pancaindra kita berpijak pada kenyataan), dan (3) determinisme (segala sesuatu sudah ditentukan oleh sebab musabab tertentu, tak ada kemauan bebas à perang, bencana alam, nasib).

Impresionisme adalah aliran kesusastraan yang memusatkan perhatian pada apayang terjadi dalam batin tokoh utama. Impresionisme lebiuh mengutamakan pemberian kesan/pengaruh kepada perasaan daripada kenyataan atau keadaan yang sebenarnya. Beberapa pengarang Pujangga Baru memperlihatkan impresionisme dalam beberapa karyanya.

Ada pula yang menyebut aliran psikologisme. Sebenarnya, aliran psikologisme tidak ada. Yang ada adalah penelitian psikologi sastra. Analisis sastra yang membahas interaksi antara hidup pengarang dan karya-karyanya, analisis teks sastra dengan pendekatan ilmu psikologi, dsb.

goesprih.blogspot.com

Lasem 1750

Mingkar mingkuring wong akrami

Dudu bondo dudu rupo

Ananging tan sejati

Hiya katulusuan maring Gusti

 

Merah adalah kebenaran mendidihkan  tulan-tulang mu

Sepasukan dengan gagah perkasa dan kuda-kuda

Berbaris rapi menggetarkan bumi  Tumenggung Widyadiningrat

Do’a-do’a dan bau kemenyan membumbung

Juga rapal-rapal para biksu, santri di kuil juga masjid

 

Adakah memang kebenaran selalu butuh darah dan air mata

Angkat senjata menulis sejarah

Dari luka dan tajamnya peluru

Tangisan bocah mengharu-haru

 

Darah menjadi sungai amis menjadi udara tangis menjadi-jadi

Kyai baidhowi mengobar jihad fi sabilillah

Oei Ing Kiat angkat tombak arah barat

Tan Kee Wie atas kuda gagah perkasa

Semua satu dalam benar dalam dada mardika

Lasem 1750 di bakar sepuh bara

 

Aku ceritakan kepada engkau kelak

Aku engkau terlahir dari darah yang di tumpah

Lasem, Februari 2012